Brand image dapat
dibagi
menjadi
3 bagian, yaitu :
1.
Strength of brand associations
Seseorang
yang berpikir
lebih
dalam tentang informasi
produk menghubungkannya dengan pengetahuan mereka yang ada tentang suatu brand, maka semakin kuat asosiasi yang akan dihasilkan. 2 faktor y
memperkuat asosiasi untuk setiap bagian dari informasi adalah relevansi pribadi
dan konsistensi dengan yang
disajikan dari
waktu ke waktu.
Konsumen membentuk
kepercayaan tentang atribut
dari brand manfaat dalam cara yang berbeda. Brand attributes merupakan deskrpsi dari fitur yang memiliki karakteristik produk atau
service. Brand
benefit merupakan nilai personal dan hal ini berarti bahwa konsumen melekat pada
atribut produk
dan jasa.
Secara
umum, pengalaman langsung
membuat asosiasi brand attribute dan benefit menjadi paling kuat dan
sangat berpengaruh
kepada keputusan
konsumen ketika mereka menginterpretasikannya secara akurat.
Perusahaan dipengaruhi sumber informasi, seperti iklan, sering
seperti
untuk menciptakan asosiasi yang
lebih lemah dan mungkin sangat mudah
untuk diganti. Untuk memecahkan
masalah ini, program
komunikasi pemasaran menggunakan komunikasi yang
kreatif yang
menyebabkan
konsumen mengembangkan informasi yang
terkait dengan brand
dan mengaitkan hal
tersebut
dengan tepat untuk pengetahuan yang
ada.
2.
Favorability of brand associations
Untuk
memilih asosiasi yang menguntungkan dan unik yang berhubun
dengan brand, pemasaran dengan hati-hati menganalisa konsumen
kompetisi untuk menentukan
positioning
yang terbaik
untuk
Brand tersebut. Pemasaran menciptakan asosiasi brand yang menguntukan dengan membuat konsumen
merasa nyaman
dimana brand tersebut
memmiliki
atribut yang relevan dan bermanfaat yang dapat memuaskan kebutuhan
dan keinginan
konsumen dan
memiliki penilaian
yang positif
secara
keseluruhan terhadap brand
tersebut. Asosiasi yang menguntukan terhadap
brand adalah asosiasi
yang desirable kepada
konsumen : convenient
reliable,
effective, efficient,
colorful
dan delivered
oleh
produk, dikumpulkan program pendukung pemasar.
Desirability tergantung oleh 3 faktor : bagaimana kosumen menemukan asosiasi brand
yang relevant, distinctive, dan believable. Menciptakan favorable association juga
memerlukan
sejauh mana perusahaan
dapat
menyampaikan
dalam asosiasi yang diinginkan. Deliverability tergantung
oleh
3
faktor : kemampuan aktual atau
potensial
dari performansi produk, prospek performansi komunikasi pada masa sekarang dan akan datang, dan keberlanjutan dari performansi yang
actual dan
terkomunikasikan dari waktu ke waktu.
3.
Uniqueness of brand association.
Esensi
dari brand positioning
adalah
brand memiliki sustainable
competitive advantage
atau unique selling proposition yang memberikan
konsumen alasan yang
meyakinkan mengapa mereka
harus
membeli
produk tersebut. Pemasar dapat membuat perbedaan yang unik secara jelas
melalu perbandingan secara langsung
dengan kompetitor, atau pemasar
mungkin hanya
melakukan perbandingan hanya garis besarnya saja
secara tersirat. Pemasar
melakukan hal tersebut berdasarkan atribut
atau manfaat yang terkait pada produk atau yang tidak
terkait.
Brand dikatakan sukses
apabila memiliki asosiasi yang kuat dan unik. Namun
hal tersebut
dirasa
kurang cukup
kecuali
brand
tersebut
tidak mengalami kompetisi,
hal ini tampak seperti membagi beberapa asosiasi
dengan brand lainnya. Asosiasi
yang dibagi dapat membantu untuk
membangun kategori
keanggotaan dan menemukan lingkup dari
kompetis dengan produk dan service lainnya.
Riset dalam alternatif yang tidak diperbandingkan menyarankan bahwa
apabila suatu brand
tidak mengalami kompetisi secara langsung dalam
kategori produk tersebut, dan tidak membagi atribut produk yang terkait
dengan brand lain,
hal ini akan tetap membagi asosiasi yang lebih abstrak dan mengalamin kompetisi
secara tidak langsung dalam kategori produk yang lebih luas.
Kategori
produk atau
service juga dapat
membagi beberapa
asoasi termasuk
kepercayaan yang
spesifik
tentang
beberapa
anggota dalam
kategori, sebaik sikap secara keseluruhan terhadap semua anggota dalam kategori. Kepercayaan ini mungkin termasuk banyak dari atribut produk
terkait yang relevan untuk brand dalam kategori, sebaiknya atribut yang l
deskritif yang
tidak
perlu berkaitan dengan
performansi
produk service.
2.1.1
Brand Relationship
Menurut
Esch et al.(2006)
menemukan bahwa
brand knowledge
berdampak kepada pembelian akan datang melalui brand relationship. MenurutEsch et al (2006) brand relationship
dibagi menjadi 3 yaitu : brand
satisfaction, brand trust, dan brand attachment. Hubungan konsumen dengan brand memiliki
hubungan yang mirip dengan hubungan pribadi yang terbentuk dengan orang-
orang. Brand relationship ini mungkin merupakan
hasil dalam partisipasi dalam
komunitas brand (Muniz
and O’Guinn,
2001). Sama
dengan social network,
media sosial memiliki dampak
positif dan negatif
sebagai keterlibatan
konsumen dalam komunitas brand.
2.1.1.1 Brand Satisfaction
Menurut Engel (1990) mendefinisikan bahwa brand satisfaction
sebagai hasil dari evaluasi subjektif dari konsumen dimana konsumen merasa puas dengan brand yang mereka pilih dan brand
tersebut sesuai dengan
harapan mereka. Brand satisfaction dapat dibagi menjadi dua , yaitu : transaction specific satisfaction, dan accumulative satisfaction.
· Transaction
specific satisfaction merepresentasikan evaluasi
dan reaksi secara emosional setelah konsumen melakukan transaksi pembelian,
dan hal ini untuk merebut evaluasi atau perasaan dalam jangka pendek dan pengalaman
tertentu.
· Accumulative transaction adalah
evaluasi
secara kesuluruhan dari pengalaman
melakukan pembelian
dan melakukan
konsumsi
terhadap
produk dan services.
2.1.1.2 Brand Trust
Menurut Chaudhuri and Holbrook (2001) mendefinisikan bahwa brand trust sebagai
keinginan konsumen
secara umum yang percaya terhadap
suatu brand karena dapat memenuhi kebutuhan dan memiliki kemampuan sesuai dengan
fungsinya. Dalam konteks ini, brand trust sangat penting. Kepercayaan
dianggap sebagai salah satu kualitas yang paling diinginkan dalam hubungan baik antara
perusahaan dan pelanggannya dan dalam hubungan antara merek dan konsumen.
Fokus pada brand
trust berdasarkan temuan bahwa ada hubungan positif yang
kuat antara brand trust dan
brand loyalty.
Menurut Lau and Lee (1999)
mendefinisikan brand trust sebagai keinginan
konsumen yang
bergantung pada brand, dalam situasi menghadapi risiko,
karena mereka mengharapkan brand akan membawa hasil positif. Terdapat 2 perbedaan
antara dua definisi
ini yaitu :
· Brand reliability , hal ini berlaku pada konsumen tidak hanya percaya
pada brand ini
yang dapat memenuhi
nilai
yang telah
dideklarasikan
tetapi juga dapat memuaskan keinginan individual dalam cara yang
positif secara terus menerus,
dan membawa hasil yang positif
kepada konsumen.
· Brand benevolence, hal itu menunjukkan tingkat bahwa brand mempertahankan manfaat
dari konsumen
mereka.
Brand
trust sebagai
kepercayaan konsumen
terhadap brand tertentu dan mengimplementasikan
fungsi dan mempertahankan manfaat
dari konsumen di bawah situasi
resiko.
2.1.1.3 Brand Attachment
Brand
attachment didefinisikan sebagai kekuatan
dari ikatan yang menghubungkan brand dengan diri. Menurut teori attachment (Mikulincer and Shaver 2007), ikatan tersebut ditunjukkan
dengan jaringan memori yang kaya dan dapat diakses atau
merepresentasikan
mental
yang melibatkan
pikiran
dan perasaan tentang brand dan hubungan brand untuk diri.
Terdapat dua faktor penting yang merepresentasikan secara konseptual adalah brand-self connection,
dan brand prominence.
·
Brand-self connection.
Pertama, ide tentang attachment melibatkan ikatan dengan brand
yang merupakan bagian dari diri menyarankan bahwa aspek penting dari attachment adalah melibatkan cognitive dan emotional connection antara
brand dengan dirinya,
didefinisikan
disini dan
di
tempat lain sebagai brand-self connection
(Chaplin and
Roedder
John 2005; Escalas
and Bettman
2003;
Escalas
2004). Dengan
dikategorisasikan
bahwa
brand
adalah bagian dari diri, konsumen mengembangkan rasa dari
kesatuan mereka terhadap brand, membangun cognitive link yang menghubungkan
brand dengan diri mereka. Melalui
cognitive dalam hal ini, hubungan
brand dengan diri pada dasarnya adalah
hubungan secara emosional
(Mikulincer and Shaver 2007; Thomson
et al. 2005), melibatkan berbagai macam perasaan
secara kompleks terhadap suatu
brand, meli
kesedihan dan kecemasan dari brand-self separation; kebahagiaan,
kenyamanan dari brand-self proximity;
dan kebanggaan dari brand display. Konsumen dapat terhubung dengan brand karena hal
merepresentasikan seseorang secara individual (identity basis) atau ka hal
ini
merepresentasikan tujuan, perhatian secara personal,
atau project (instrumentality basis, Mittal 2006).
·
Brand
prominence.
Selain brand-self connection, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sejauh
mana perasaan positif dan
kenangan tentang object
attachment yang dianggap menjadi
top
of
mind
juga berfungsi sebagai
indikator
dari attachment. Menurut
Mikulincer (1998)
dan
Collins (1996)
kenangan
positif tentang object attachment (misalnya orang lain) lebih menonjol
bagi individu yang sangat terikat pada attachment object daripada individu
yang memiliki attachment yang lemah. Faktanya brand-self connection mengembangkan koneksi dari waktu ke waktu dan melalui pengalaman menunjukkan brand terkait dengan pikiran dan perasaan menjadi bagian dari memori seseorang
dan bervariasi dalam
persepsi
atau kemudahan
yang berada
dalam pikiran. Prominence menunjukkan salience (hal yang menonjol) dari ikatan cognitive dan affective yang berhubungan dengan brand terhadap diri. Salience melambangkan persepsi, kemudahan, dan frekuensi dengan pemikiran yang berkaitan dengan brand
dan perasaan
yang dibawa ke pikiran. Oleh sebab itu, attachment pada konsumen dalam
kaitannya dengan dua brand yang
tingkat brand self connection yang sama
terlihat lebih
tinggi
pada brand yang dianggap
lebih menonjol.
Kedua indikator tersebut merupakan hal yang
penting. Brand
self connection adalah komponen inti dari attachment karena koneksi ini lebih banyak mencerminkan definisi attachment sebagai ikatan yang
menghubungkan individu dengan brand. Penyertaan brand prominence menambah ketepatan dalam
mengukur kekuatan ikatan yang menghubungkan brand
dengan individu. Hal ini
dikarenakan dua
alasan :
·
Saat pikiran dan perasaan mengenai brand tersebut sangat mudah diakses prominence bisa
menimbulkan pengaruh kuat
yang tidak proporsional dalam mengambil keputusan (Alba dan Marmorstein 1987) dan sangat
mempengaruhi perilaku pembelian pada konsumen (Akçura, Gönül,dan
Petrova 2004). Secara khusus, konsumen yang menganggap brand self connection sangat penting dan yang mengasosiasikannya sebagai hal yang
juga
prominence kemungkinan besar lebih banyak terlibat dalam perilaku mempertahankan hubungan daripada konsumen dengan brand
self connection yang tinggi tapi tidak begitu menonjol. Hal ini benar adanya
karena
brand
prominence
membuat kegiatan untuk mempertahan
hubungan dengan brand juga menjadi menonjol.
Oleh sebab itu, seseorang
bisa mengamati komitmen yang lebih tinggi dalam bentuk kesetiaan pada brand dan perilaku
lain (misalnya omongan mulut ke mulut yang positif
dan
lebih banyak waktu, uang, dan energi yang dihabiskan
dalam perilaku untuk mempertahankan hubungan ini) jika brand self connection dan sifat menonjolnya tinggi. Logika ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya (Akçura, Gönül, dan Petrova 2004; Alba dan Chattopadhyay 1986; Albadan Marmorstein
1987), yang
menunjukkan bahwa keunggulan perasaan dan pikiran bisa
mempengaruhi perilaku dengan mengingat
kembali pikiran dan perasaan lainnya (Alba dan Chattopadhyay
1986). Seiring dengan semakin menonjolnya kegiatan untuk mempertahankan hubungan
ini, perilaku yang menghalangi hubungan juga bisa jadi terhambat.
· Konsumen
mampu
mengembangkan
brand
self connection
yang kuat
karena :
a)
Brand bersangkutan adalah bagian dari pemikiran diri seseorang dan/atau
b)
Koneksi
ini memiliki nilai
instrumental.
Alasan pertama menekankan
brand-self connection dalam
hal siapa seseorang itu sebenarnya dan identitasnya. Seseorang mungkin bahwa jika brand
didasarkan pada identitas (yaitu iMac milik asing
seseorang
dilihat sebagai bagian dari siapa seseorang itu dan apa pendirian orang
tersebut) maka sifat menonjolnya umumnya lebih tinggi karena aktivasi diri dan aktivasi
brand
terjadi bersamaan.
Jika
demikian,
prominence
mungkin hanya menambah
sedikit peran dalam
penilaian tertentu keterikatan karena brand prominence dan brand self connection sama-
sama bervariasi.
Namun,
prominence bisa berfungsi sebagai indikator
penting mengenai keterikatan jika konsumen terhubung dengan sebagian brand karena nilai instrumentalnya (yaitu seperti iMac milik seseorang
yang penting dimiliki untuk memenuhi tujuan terkait dengan hiburan
pekerjaan). Jika suatu brand memiliki nilai instrumental,maka keterikatan akan lebih kuat jika ada lebih banyak pikiran dan perasaan terkait dengan brand tersebut dibandingkan dengan sebaliknya. Semakin
tinggi
prominence, pikiran dan perasaan terkait dengan brand
menjadi bagian dari kegiatan hidup
sehari-hari, dan ini membuat keterikatan pada brand
semakin kuat