BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Media
Sosial
Kaplan dan Haenlein menciptakan skema klasifikasi untuk berbagai jenis
media sosial dalam artikel
Horizons Bisnis mereka diterbitkan dalam 2010.
Menurut Kaplan dan Haenlein ada enam jenis media sosial: proyek kolaborasi (misalnya
wikipedia), blog dan microblogs
(misalnya, twitter), komunitas konten (misalnya youtube), situs jaringan sosial (misalnya facebook), virtual game (misalnya w of warcraft),
dan
virtual social (misalnya second life).
Jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat
page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi
dan
berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain facebook,
myspace, dan
twitter. Jika
media tradisional
menggunakan
media
cetak dan
media
broadcast, maka media sosial
menggunakan
internet.
Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpertisipasi dengan memberi kontribusi dan feedb secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.
Saat teknologi internet dan mobile phone makin
maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook
atau twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan
sebuah mobile phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara
maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga
mulai tampak menggantikan peranan media
massa konvensional dalam
menyebarkan
berita-berita.
Menurut Weber
media sosial berpengaruh terhadap
branding. Ketika
pemasar memiliki
komsumen,
maka
pemasar
harus melakukan perkacapan semakin dalam, maka brandnya akan semakin kuat, dan begitu juga sebaliknya.
Hal tersebut menjadi konsep
inti dari
pemasaran tradisional
dan branding.
Branding dan marketing berbicara tentang partisipasi di dalam jaringan sosial
dimana percakapan
antara konsumen dan
konsumen akan berkembang.
Menurut Dube
( http://socialnetworking.lovetoknow.com/characteristics of_social_networks ),
terdapat lima karakteristik
dasar yang membedakan jaringan
sosial dari
sebuah situs web biasa. Karakteristik tersebut adalah adalah :
·
User-based : Jaringan sosial online dibangun dan diarahkan oleh pengguna sendiri. Tanpa pengguna, jaringan akan menjadi ruang kosong
diisi dengan forum kosong, aplikasi, dan chat room. Pengguna mengisi jaringan dengan
percakapan dan konten.
Arah konten ditentukan oleh user yang terlibat
dalam diskusi.
Inilah yang membuat jaringan sosial jauh lebih menarik
dinamis bagi pengguna internet.
·
Interactive: Karakteristik lain dari jaringan
sosial modern
adalah kenyataan bahwa mereka begitu
interaktif.
Ini berarti bahwa
jaringan sosial bukan hanya kumpulan chat room dan forum lagi. Mereka
berbagi foto dan video melalui media sosial ini.
Jaringan sosial ini dengan
cepat
menjadi
hobi karena lebih dari
sekedar
hiburan.
·
Community-driven: Jaringan sosial yang dibangun dan berkembang
dari
konsep-konsep komunitas. Ini berarti bahwa
sama seperti komunitas atau kelompok sosial di seluruh dunia yang
didirikan pada kenyataan bahwa anggota memegang keyakinan atau hobi yang sama, dan memiliki banyak kesamaan
di antara komunitas tersebut.
·
Relationships
: tidak seperti website terdahulu, media sosial berkembang
pesat
dengan
menitikberatkan pada
relationship.
Hubungan
yang
lebih kuat terjadi dalam jaringan. Bila kita
melakukan post atau update pada
halaman tersebut, maka penyebaran konten
di seluruh jaringan kontak
dan
sub-kontak yang jauh lebih
besar dari yang kita sadari.
·
Emotion over content: Karakteristik lain yang unik dari jaringan sosial
adalah faktor emosional. Sementara website dari masa lalu difokuskan
terutama pada penyediaan informasi kepada
pengunjung, jaringan sosial
benar-benar membuat pengguna terlibat secara emosional tentang konten yang terdapat
dalam media sosial.
Pemasaran
media sosial terdiri
dari upaya
menggunakan
media so untuk membujuk konsumen mengenai produk dan jasa
dari suatu perusah
Pemasaran
media sosial
adalah
pemasaran menggunakan komunitas
onl
jaringan sosial, blog pemasaran
dan banyak lagi.
Berbeda
dengan
pemas secara tradisional, social media
marketing (SMM) memiliki 3 keuntungan
:
1.
Media
sosial menyediakan jendela bagi pemasar yang tidak hanya berg
untuk memasarkan produk dan jasa, tetapi berguna
untuk mendengar saran dari
konsumen.
2.
Media
sosial sangat mudah bagi pemasar untuk mengidentifi konsumen berdasarkan kelompok yang dapat mempengaruhi pandan
mereka terhadap suatu brand.
3.
Media
sosial dijalankan
tanpa menggunakan
biaya.
Sosial
media kini semakin menjadi aspek yang mengakar dari kampa politik, strategi pertahanan nasional,
kebijakan publik,
hubungan
masyarakat manajemen mereka dan komunikasi antar perusahaan. Karena tugas utama pemasaran sebagai
alat yang
digunakan untuk
menginformasikan
konsumen tentang produk perusahaan, siapa mereka dan apa yang mereka tawarkan, pemasaran sosial memainkan peran penting dalam pemasaran. Peran sosial media tersebut adalah
:
1.
Media
sosial dapat digunakan untuk memberikan identitas tentang
perusahaan dan produk
atau jasa yang mereka tawarkan.
2.
Media
sosial membantu dalam menciptakan hubungan dengan orang yang mungkin
tidak mengetahui
tentang produk atau
jasa atau perusahaan.
3.
Media sosial
membuat perusahaan “real” terhadap konsumen. bila
perusahaan ingin konsumen mengikuti mereka, mereka tidak cukup hanya
membicarakan tentang produk baru
mereka, tetapi perusahaan harus
membagi personality
mereka.
4.
Media sosial dapat digunakan
untuk
mengasosiasikan
dirinya
den rekan-rekan
mereka yang
dapat melayani target pasar yang sama.
5.
Media sosial dapat digunakan untuk berkomunikasi dan
memberi interaksi
tentang apa yang konsumen cari.
2.1.1
Electronic
Word of Mouth (eWOM)
Online customer product merupakan tipe baru dari penyebaran inform melalui word
of mouth. Hal ini merupakan fenomena yang berlaku pada pasar
yang berkembang. Dengan adanya online customer product ini menjadikan peran yang sangat penting bagi konsumen yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Internet dan teknologi informasi dapat membuat kesempatan baru
konsumen untuk berbagi produk mereka secara online (Avery at al, 1999). Hal
terjadi pada era new media. New media adalah istilah yang lebih luas dalam studi media yang muncul
di bagian akhir abad ke-20 yang mengacu pada permintaan akses
ke
konten kapan saja,
dimana saja, pada perangkat
digital,
serta
umpan balik dari pengguna secara
interaktif, partisipasi
secara kreatif
dan pembentukkan
komunitas sekitar konten media. Hal yang penting dalam new media ini
adalah menjanjikan demokratisasi dari
pencintaan,
penerbitan,
distribusi, dan konsumsi dari konten media. Interaktivitas telah menjadi istilah untuk sejumlah media baru
menggunakan opsi berkembang dari penyebaran cepat dari jalur akses internet,digitalisasi media, dan
konvergensi media.

Gambar 2.1 Model Komunikasi
Sumber : Karthik. S (2011)
Pada gambar [2.1] dapat dijelaskan bahwa komunikasi yang dahulu
dari model “one
to
many” berubah menjadi komunikasi dengan model “many
to many” Peran konsumen sebagai medium penyampaian
informasi
merupa kunci
dari
komunikasi
“many to many”
yang tidak dapat
ditemukan komunikasi “one to many”.
Kredibilitas informasi
pada
konsumen mungkin
akan
lebih
penting
daripada kredibilitas dari marketer karena kredibilitas informasi sering
berhubungan
positif dengan
sumber informasi
(Wilson and
Sherrell,
1993).
Berdasarkan informasi yang dibuat
oleh konsumen, pandangan konsumen secara
online lebih relevan untuk informasi yang
dibuat konsumen daripada informasi
yang dibuat pemasar. Informasi yang dibuat
oleh pemasar lebih cenderung berorientasi pada produk, karena informasi yang dibuat
oleh pemasar menjelaskan atribut produk
dalam hal spesifikasi teknis dan pengukuran performance produk secara teknikal. Sebaliknya, informasi yang dibuat
konsumen berorientasi pada
user. Informasi yang dibuat
oleh konsumen sering menjelaskan atribut produk dalam hal kondisi
penggunaan
dan pengukuran performance
produk dari
pandangan user
(Bickart and Schindler, 2001). Konsumen memiliki perbedaan
kemampuan pengolahan informasi dalam
menyimpulkan manfaat dari informasi
atribut produk karena berbeda
tingkat
keahlian
(Alba and
Hutchinson 1987).
Karena alasan ini, informasi yang dibuat
oleh penjual mungkin lebih berguna
untuk konsumen yang sophisticated (seperti para ahli). Informasi yang dibuat oleh
konsumen dapat membantu konsumen yang kurang sophisticated (misal pemula ).
Untuk menemukan produk yang tepat bagi mereka. Sebagai hasilnya, pandangan konsumen dapat digunakan sebagai elemen baru dari marketing mix dan dapat
diimplemantasikan
pada penjualan produk
secara online untuk membantu konsumen mengidentifikasi produk yang cocok bagi mereka. Sumber inform
lain dari pandangan konsumen secara online adalah pandangan terhadap produk dari pihak ketiga (contohnya : CNET.com, caranddriver.com, PC Magazine, PCWorld).
Pandangan produk berdasarkan
pihak
ketiga menyediakan inform
produk berdasarkan test lab atau evaluasi para ahli. Pandangan produk dari pi
ketiga memfokuskan pada informasi atribut produk (seperti performance, fi fitur, dan reliability) karena informasi tersebut lebih mudah untuk dihitung diukur. Sebagai hasilnya,
rating dari
pandangan pihak ketiga
dikorelasi dengan performance dari atribut
produk. Berbeda dengan pandangan pihak ket pandangan konsumen secara online dikirimkan oleh user berdasarkan pengala
pribadi mereka yang dapat sangat dipengaruhi oleh preferensi selera mereka s penggunaan kondisi pribadi mereka. Oleh karena itu, pandangan konsumen l cenderung
untuk
fokus
pada apakah dan
bagaimana produk
sesuai prefer individu
tertentu dan kondisi penggunaan.
Pandangan konsumen secara online sebagai informasi produk yang dibuat
konsumen dapat dilihat sebagai tipe yang spesial dari
WOM (e.g., Godes and
Mayzlin 2004), atau
disebut electronic
word of mouth (eWOM).
Hal ini berbeda
dengan WOM secara
tradisional, pengaruhnya
hanya
terbatas pada masyarakat sekitarnya saja (e.g., Brown and Reingen 1987, Biyalogorsky et al. 2001, Shi 2003).
Dampak dari
pandangan konsumen
secara
dapat mencapai masyarakat
yang luas (tidak pada masyarakat setempat saja) karena seluruh orang di dunia
dapat
mengakses internet. Sebagai tambahan, WOM secara tradisional
bukan merupakan variabel keputusan langsung
dari
pemasar. Perkembangan teknologi informasi terbaru
memungkinkan marketer untuk secara efektif berinisiatif dan
menyebarkan
pandangan konsumen melalui website mereka.
Word of mouth (WOM) adalah proses menyampaikan informasi dari orang
ke orang dan memiliki peran utama dalam mengambil keputusan pembelian dari
konsumen (Richins &
Root-Shaffer, 1988). Pada kondisi
komersial, WOM melibatkan sikap konsumen dalam mengshare brand, opini, atau reaksi tentang bisnis,
produk, atau
jasa
orang
lain.
WOM yang
positif merupakan media pemasaran
yang powerful bagi perusahaan
untuk mempengaruhi konsumen
Fungsi komunikasi dari WOM berdasarkan social networking
dan kepercayaan keluarga, teman, atau social network yang lain. Penelitian ini menunjukkan bahwa
orang mempercayai pendapat seseorang yang tidak tertarik dari orang-orang
diluar social network mereka, contohnya online review (Duana,Gub,&Whinston
,2008).
Dalam artian yang lebih luas eWOM merupakan kekuatan yang sangat
kuat untuk mempengaruhi brand image dan persepsi (Reynolds, 2006; Urban
2005). Dalam brand management,
perusahaan
dapat mencoba untuk
memulai
eWOM
dan viral
marketing operation (Wells, Moriarty,
&
Burnett, 2000). Bagaimanapun,
brand management mentrasformasikan perubahan
teknologi komunikasi. Meskipun
mimiliki bentuk yang sama dengan bentuk word of mounth
eWOM menawarkan berbagai sarana bertukar informasi, tanpa nama atau secara rahasia.
Salah
satu bentuk baru dari eWOM
marketing adalah microblogging
menggunakan komunikasi web secara sosial seperti twitter. Salah satu paradigma untuk mempelajari
konektivitas secara konstan
dari
layanan jejaring
sosial
modern di daerah komersial
disebut
attention economy
(Davenport
& Beck 2002), dimana merek terus bersaing untuk memperebutkan perhatian pelanggan
secara potensial. Dalam attention economy, media sosial adalah bentuk baru komunikasi di mana pengguna dapat menggambarkan hal yang
menarik dan menyatakan sikap
mereka bahwa mereka bersedia untuk berbagi dengan orang lain
dalam posting
singkat (yaitu, microblogs). Posting ini kemudian
didistribusikan oleh
pesan instan,
ponsel, email, atau web. Mengingat karakteristik komunikasi yang berbeda,
media sosial layak diperhatikan secara
serius sebagai
bentuk eWOM.
2.1.2
Twitter
Menurut Jansen, B.J, Zhang, M., Sobel, K., Chowdury, A. (2009), twitter
adalah sebuah situs web yang dimiliki dan dioperasikan oleh Twitter Inc., yang menawarkan
jejaring sosial berupa mikroblog
sehingga memungkinkan
penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan yang disebut
tweets. Tweets
adalah teks tulisan hingga 140 karakter yang ditampilkan pada halaman profil
pengguna. Tweets bisa dilihat secara
luar,
namun
pengirim dapat membatasi
pengiriman pesan ke daftar teman-teman mereka saja. Pengguna dapat melihat
tweets penulis lain yang dikenal dengan sebutan followers. Pengaturan stadar
untuk tweets adalah publik, yang memungkinkan orang untuk mengikuti orang
lain dan membaca tweets masing-masing tanpa perlunya izin. setiap pengguna
memiliki halaman twitter di mana semua update mereka dikumpulkan ke dalam
satu daftar.
Tweets tidak hanya menampilkan halaman profil pengguna, tetapi dapat disampaikan secara langsung
kepada followers melalui instant messaging, Short Message Service (SMS), Really Simple
Syndication (RSS), email, atau jaringan
sosial lainnya, seperti twitterrific atau facebook. Application Program
Interface (API) pada twitter dapat diintegrasikan dengan web service dan web applicat
ion Salah satu service media sosial terbesar adalah twitter, pengguna twitter tumbuh dengan cepat, dan hal ini menjadi perhatian bagi perusahaan dan mempengaruhi perilaku konsumen dan service. Twitter digunakan oleh oraganisasi-organisasi.
baru untuk menerima update
ketika keadaan darurat dan bencana alam. Sejumloah bisnis dan organisasi menggunakan twitter atau media sosial lainnya
untuk menyebarluaskan informasi kepada orang-orang yang memegang kepentingan
(www.socialbrandindex.com). Pertumbuhan pengguna twitter mengalami rasio pertumbuhan
yang tinggi,
dengan
beberapa
juta pengguna
pada tahun
2008
(Baush dan McGiboney, 2008). Web aplikasi seperti tweetrush
(tweetrush.com) mengestimasi kepadatan kurang lebih 1 juta tweets setiap hari. Jika dilihat dari sudut pandang lainnya, dari bulan Agustus tahun 2006 sampai Agustus tahun
2008, twitter telah membuat kurang
lebih 100.000 books of content,
dengan 140 karakter (Milstein
et al., 2008). Sebagai yang
terbesar, paling
terkenal, dan paling populer dari media
sosial, twitter merupakan kandidat yang ideal yang menjadi
area utama dari eWOM.
Semua
pengguna dapat
mengirim dan
menerima tweets melalui situs twitter, aplikasi yang kompatibel (Telphone
selluler) atau dengan pesan singkat (SMS) yang tersedia di negara-negara tertentu. Situs ini berbasis di San Bruno,
California dekat
San
Francisco, dimana situs
ini pertama kali
dibuat.
Twitter juga memiliki server dan
kantor di San
Antonio,
Texas dan
Boston Massachusetts. Sejak dibentuk pada tahun 2006 oleh Jack Dorsey, twitter telah mendapatkan popularitas di seluruh dunia dan saat ini memiliki lebih dari 100
juta pengguna. Hal
ini kadang-kadang digambarkan
sebagai "SMS dari
internet"
Twitter merupakan
salah satu
dari 10 situs
web yang
paling seiring dikunjungi di seluruh dunia oleh Alexa trafic web
analysis. Februari 2009 Compete.com blog
entry mengatakan bahwa twitter
berada di tingkat
ke
3 sebagai situs
yang digunakan
jaringan sosial berdasarkan
jumlah pengunjung bulanan sebanyak 6 juta pengunjung. Pada bulan Maret 2009, Nielsen.com blog menyatakan twitter sebagai situs yang tumbuh tercepat dalam kategori komunitas anggota. Twitter memiliki pertumbuhan bulanan sebesar 1.382%, meningkat dari 475.000 pengunjung pada Februari
2008 menjadi 7 juta pada Februari 2009.
2.2 Brand
Menurut American Marketing Association
mendifinisikan bahwa brand adalah nama, term, desain, simbol, dan fitur-fitur lainnya yang mengindikasikan bahwa satu brand berbeda dengan
brand
lainnya. Brand adalah produk atau
service dimana memiliki dimensi yang
berbeda
dalam beberapa hal dari produk
atau service yang
dirancang untuk memenuhi
kebutuhan yang sama. Sebuah
brand dapat mengambil banyak bentuk, termasuk nama, tanda, simbol, kombinasi warna atau
slogan.
Brand merupakan faktor yang sangat penting bagi kesuksesan perusahaan.
Perusaahan berusaha agar brand mereka dikenal masyarakat luas. Dampak dari word of mouth dirasakan hal yang sangat penting bagi perusahaan untuk membuat
konsumen mengetahui suatu brand. Word of mouth akan memberikan dampak
secara langsung terhadap brand knowledge (Esch et al ,2006). Brand knowledge terdiri dari
dua komponen
yaitu brand awareness dan brand image. Setelah
terbentuknya brand knowledge
maka akan memberikan dampak
terhadap pembentukan brand relationship. Brand relationship terdiri dari brand satisfaction, brand trust, dan
brand attachment (Esch
et al ,2006).
2.2.1
Brand Knowledge
Dalam dunia bisnis salah satu faktor yang membuat perusahaan sukses
adalah konsumen mengetahui suatu
brand dengan kuat, hal ini dicapai melalui level yang lebih tinggi dari brand knowledge. Brand awareness dan brand image merupakan dua komponen dari brand knowledge, dimana melihat brand dari
sisi konsumen, oleh karena itu perusahaan harus mengontrolnya melalui komunikasi Brand image berhubungan dengan
elemen
fungsional
dan emosional,
dimana
membantu perusahaan untuk
berkomunikasi dengan
konsumen.
Brand dapat membedakan produk dan service dari yang lainnya (Kotler and Keller, 2009). Bagi perusahaan, brand adalah tanda
dari penawaran mereka dan
tanda-tanda
kualitas,
resiko dan
kepercayaan bagi konsumen
(Keller
and Lehmann, 2005). Knowledge adalah hasil dari penangkapan dan informasi dalam
konteks tertentu. Probst et al. (2001, 24) menjelaskan bahwa knowledge adalah seluruh pikiran dan keterampilan yang orang gunakan untuk untuk memecahkan masalah. Knowledge, yang memungkinkan individu atau organisasi untuk menilai
dan
ide-ide baru dan informasi secara
keseluruhan, lebih dari kumpulan
pengalaman dan nilai-nilai (Davenport
and
Prusack,1998). Knowledge juga
dapat
dianggap sebagai akumulasi dan penanaman informasi dan data dari waktu ke
waktu (Leonard-Barton, 1995).
Brand knowledge didasarkan atas komunikasi yang konstan dengan konsumen yang
memunculkan pemahaman sebenarnya dari produk atau jasa (Richards et al., 1998). Menurut Keller (2003) mendefinisikan consumer brand knowledge sebagai seluruh informasi terkait
secara deskriptif dan evaluatif,
dimana kesimpulan secara
individu disimpan di dalam memori konsumen. Brand
knowledge terdiri dari pengertian brand terkait sebagai brand awareness dan
brand image,
dimana
brand
awareness
dan brand image secara langsung
mempengaruhi tanggapan
konsumen (Keller, 1993).
2.2.1.1 Brand Awareness
Brand awareness adalah kemampuan pembeli potensial untuk mengenali
atau mengingat bahwa brand
merupakan anggota dari kategori produk tertentu
(Aaker, 1991).
Hal ini terkait dengan
kekuatan
brand
dalam memori
yang
memungkinkan konsumen
untuk
memastikan brand di bawah
kondisi yang berbeda (Rossiter and
Percy, 1987). Brand awareness adalah kekuatan
keberadaan sebuah brand di benak konsumen (Ross, 2006). Menurut Keller brand awareness
adalah kekuatan suatu brand node di dalam memori yang dapat diukur
sebagai kemampuan
konsumen mengidentifikasi brand dalam kondisi yang berbeda
Keller (1993) mengklasifikasikan brand
awareness menjadi brand recognition
dan brand recall.
a.
Brand recognition (aided recall) berkaitan dengan kemampuan konsumen
untuk mengkonfirmasi paparan sebelumnya mengenai suatu brand ketika diberikan brand sebagai
petunjuk.
b.
Brand recall (unaided recall) berkaitan dengan kemampuan konsumen untuk mengingat suatu
brand tanpa diberikan
bantuan.
Brand awareness semakin tinggi akan memberikan beberapa manfaat. Adapun
keuntungan-keuntungan dari brand
awareness yang tinggi
sebagai berikut :
1.
Learning advantages
Brand
awareness berpengaruh terhadap formasi dan kekuatan dari asosiasi
yang membentuk brand image. Untuk
membentuk brand image, pemasaran
pertama-tama
harus membangun brand node dalam memori, hal ini menjadi dasar yang
memberikan efek bagaimana dengan mudahnya
konsumen belajar dan menyimpan brand association tambahan. Langkah pertama membangun brand
equity adalah
untuk mendaftarkan brand
tersebut dalam pikiran
konsumen.
2.
Consideration advantages
Konsumen harus menyadari brand bahwa setiap kali mereka melakukan pembelian
yang bisa diterima untuk memenuhi kebutuhan mereka
dan memuaskan mereka. Meningkatnya brand awareness dapat meningkatkan
kemungkinan brand akan menjadi
anggota dari consideration
set beberapa
brand yang memiliki pertimbangan serius untuk pembelian.
3.
Choice advantages
Brand awareness yang
tinggi dapat memberikan efek pilihan dalam brand dalam consideration set, bahkan jika
tidak ada asosiasi lain dari brand
tersebut.
2.2.1.2 Brand Image
Brand image
menurut American
Marketing Association sebagai refleksi cermin dari suatu brand personality atau produk. Brand image adalah apa yang orang percaya terhadap brand tentang pikiran, perasaan, dan harapan mereka Brand image sebagai persepsi dan kepercayaan yang dianut oleh konsumen, yang tercermin dalam asosiasi yang terjadi di memori konsumen (Kotler
dan Keller ,2009), seperangkat asosiasi, biasanya terjadi dalam beberapa cara yang berarti (Aaker, 1991, p. 109), bentuk eksternal dan karakteristik yang dapat diamati
dari penawaran pasar
(Sherry, 2005, 48).
Brand
image merupakan sumber
suatu brand tetap bergema
dan
ada dalam pikiran konsumen (Sherry, 2005). Mengkomunikasikan brand image secara jelas
untuk mentargetkan
kepada konsumen dimana
konsumen membutuhkan
kepuasaan dari suatu brand (Park et al., 1986). dan membedakan brand dari
pesaing (DiMingo,1988), dan merupakan bagian penting
dari
kegiatan pemasaran
(Gardner dan Levy, 1955; Grubb dan Grathwol, 1967; Moran 1973; Roth, 1995). Roth (1995) menunjukkan bahwa pengaruh strategi brand
image pada kinerja
produk dan pengelolaan brand
image harus
dipertimbangkan ketika menganalisis
strategi brand image.
Untuk membuat brand image
yang positif membutuhkan program pemasaran yang berhubungan dengan asosiasi kuat, menguntungkan, dan unik terhadap suatu brand dalam memori. Definisi dari customer–based
brand equity tidak membedakan antara sumber dari asosiasi brand dan cara mereka terbentuk.
Hal ini
berarti konsumen dapat membentuk asosiasi brand
dengan variasi cara
konsumen tersebut daripada aktivitas pemasaran,
dari pengalaman langsung melalui
informasi dari
komersial atau
sumber yang
tidak
memihak
seperti consumer reports atau media lainnya, dari word of mouth, dan dari asumsi
kesimpulan konsumen tentang brand itu sendiri, tentang nama, tentang logo, identifikasi dengan perusahaan, negara,
atau saluaran distribusi,
atau orang,
tempat, atau event.
Brand image dapat
dibagi
menjadi
3 bagian, yaitu :
1.
Strength of brand associations
Seseorang
yang berpikir
lebih
dalam tentang informasi
produk menghubungkannya dengan pengetahuan mereka yang ada tentang suatu brand, maka semakin kuat asosiasi yang akan dihasilkan. 2 faktor y
memperkuat asosiasi untuk setiap bagian dari informasi adalah relevansi pribadi
dan konsistensi dengan yang
disajikan dari
waktu ke waktu.
Konsumen membentuk
kepercayaan tentang atribut
dari brand manfaat dalam cara yang berbeda. Brand attributes merupakan deskrpsi dari fitur yang memiliki karakteristik produk atau
service. Brand
benefit merupakan nilai personal dan hal ini berarti bahwa konsumen melekat pada
atribut produk
dan jasa.
Secara
umum, pengalaman langsung
membuat asosiasi brand attribute dan benefit menjadi paling kuat dan
sangat berpengaruh
kepada keputusan
konsumen ketika mereka menginterpretasikannya secara akurat.
Perusahaan dipengaruhi sumber informasi, seperti iklan, sering
seperti
untuk menciptakan asosiasi yang
lebih lemah dan mungkin sangat mudah
untuk diganti. Untuk memecahkan
masalah ini, program
komunikasi pemasaran menggunakan komunikasi yang
kreatif yang
menyebabkan
konsumen mengembangkan informasi yang
terkait dengan brand
dan mengaitkan hal
tersebut
dengan tepat untuk pengetahuan yang
ada.
2.
Favorability of brand associations
Untuk
memilih asosiasi yang menguntungkan dan unik yang berhubun
dengan brand, pemasaran dengan hati-hati menganalisa konsumen
kompetisi untuk menentukan
positioning
yang terbaik
untuk
Brand tersebut. Pemasaran menciptakan asosiasi brand yang menguntukan dengan membuat konsumen
merasa nyaman
dimana brand tersebut
memmiliki
atribut yang relevan dan bermanfaat yang dapat memuaskan kebutuhan
dan keinginan
konsumen dan
memiliki penilaian
yang positif
secara
keseluruhan terhadap brand
tersebut. Asosiasi yang menguntukan terhadap
brand adalah asosiasi
yang desirable kepada
konsumen : convenient
reliable,
effective, efficient,
colorful
dan delivered
oleh
produk, dikumpulkan program pendukung pemasar.
Desirability tergantung oleh 3 faktor : bagaimana kosumen menemukan asosiasi brand
yang relevant, distinctive, dan believable. Menciptakan favorable association juga
memerlukan
sejauh mana perusahaan
dapat
menyampaikan
dalam asosiasi yang diinginkan. Deliverability tergantung
oleh
3
faktor : kemampuan aktual atau
potensial
dari performansi produk, prospek performansi komunikasi pada masa sekarang dan akan datang, dan keberlanjutan dari performansi yang
actual dan
terkomunikasikan dari waktu ke waktu.
3.
Uniqueness of brand association.
Esensi
dari brand positioning
adalah
brand memiliki sustainable
competitive advantage
atau unique selling proposition yang memberikan
konsumen alasan yang
meyakinkan mengapa mereka
harus
membeli
produk tersebut. Pemasar dapat membuat perbedaan yang unik secara jelas
melalu perbandingan secara langsung
dengan kompetitor, atau pemasar
mungkin hanya
melakukan perbandingan hanya garis besarnya saja
secara tersirat. Pemasar
melakukan hal tersebut berdasarkan atribut
atau manfaat yang terkait pada produk atau yang tidak
terkait.
Brand dikatakan sukses
apabila memiliki asosiasi yang kuat dan unik. Namun
hal tersebut
dirasa
kurang cukup
kecuali
brand
tersebut
tidak mengalami kompetisi,
hal ini tampak seperti membagi beberapa asosiasi
dengan brand lainnya. Asosiasi
yang dibagi dapat membantu untuk
membangun kategori
keanggotaan dan menemukan lingkup dari
kompetis dengan produk dan service lainnya.
Riset dalam alternatif yang tidak diperbandingkan menyarankan bahwa
apabila suatu brand
tidak mengalami kompetisi secara langsung dalam
kategori produk tersebut, dan tidak membagi atribut produk yang terkait
dengan brand lain,
hal ini akan tetap membagi asosiasi yang lebih abstrak dan mengalamin kompetisi
secara tidak langsung dalam kategori produk yang lebih luas.
Kategori
produk atau
service juga dapat
membagi beberapa
asoasi termasuk
kepercayaan yang
spesifik
tentang
beberapa
anggota dalam
kategori, sebaik sikap secara keseluruhan terhadap semua anggota dalam kategori. Kepercayaan ini mungkin termasuk banyak dari atribut produk
terkait yang relevan untuk brand dalam kategori, sebaiknya atribut yang l
deskritif yang
tidak
perlu berkaitan dengan
performansi
produk service.
2.2.2
Brand Relationship
Menurut
Esch et al.(2006)
menemukan bahwa
brand knowledge
berdampak kepada pembelian akan datang melalui brand relationship. MenurutEsch et al (2006) brand relationship
dibagi menjadi 3 yaitu : brand
satisfaction, brand trust, dan brand attachment. Hubungan konsumen dengan brand memiliki
hubungan yang mirip dengan hubungan pribadi yang terbentuk dengan orang-
orang. Brand relationship ini mungkin merupakan
hasil dalam partisipasi dalam
komunitas brand (Muniz
and O’Guinn,
2001). Sama
dengan social network,
media sosial memiliki dampak
positif dan negatif
sebagai keterlibatan
konsumen dalam komunitas brand.
2.2.2.1 Brand Satisfaction
Menurut Engel (1990) mendefinisikan bahwa brand satisfaction
sebagai hasil dari evaluasi subjektif dari konsumen dimana konsumen merasa puas dengan brand yang mereka pilih dan brand
tersebut sesuai dengan
harapan mereka. Brand satisfaction dapat dibagi menjadi dua , yaitu : transaction specific satisfaction, dan accumulative satisfaction.
· Transaction
specific satisfaction merepresentasikan evaluasi
dan reaksi secara emosional setelah konsumen melakukan transaksi pembelian,
dan hal ini untuk merebut evaluasi atau perasaan dalam jangka pendek dan pengalaman
tertentu.
· Accumulative transaction adalah
evaluasi
secara kesuluruhan dari pengalaman
melakukan pembelian
dan melakukan
konsumsi
terhadap
produk dan services.
2.2.2.2 Brand Trust
Menurut Chaudhuri and Holbrook (2001) mendefinisikan bahwa brand trust sebagai
keinginan konsumen
secara umum yang percaya terhadap
suatu brand karena dapat memenuhi kebutuhan dan memiliki kemampuan sesuai dengan
fungsinya. Dalam konteks ini, brand trust sangat penting. Kepercayaan
dianggap sebagai salah satu kualitas yang paling diinginkan dalam hubungan baik antara
perusahaan dan pelanggannya dan dalam hubungan antara merek dan konsumen.
Fokus pada brand
trust berdasarkan temuan bahwa ada hubungan positif yang
kuat antara brand trust dan
brand loyalty.
Menurut Lau and Lee (1999)
mendefinisikan brand trust sebagai keinginan
konsumen yang
bergantung pada brand, dalam situasi menghadapi risiko,
karena mereka mengharapkan brand akan membawa hasil positif. Terdapat 2 perbedaan
antara dua definisi
ini yaitu :
· Brand reliability , hal ini berlaku pada konsumen tidak hanya percaya
pada brand ini
yang dapat memenuhi
nilai
yang telah
dideklarasikan
tetapi juga dapat memuaskan keinginan individual dalam cara yang
positif secara terus menerus,
dan membawa hasil yang positif
kepada konsumen.
· Brand benevolence, hal itu menunjukkan tingkat bahwa brand mempertahankan manfaat
dari konsumen
mereka.
Brand
trust sebagai
kepercayaan konsumen
terhadap brand tertentu dan mengimplementasikan
fungsi dan mempertahankan manfaat
dari konsumen di bawah situasi
resiko.
2.2.2.3 Brand Attachment
Brand
attachment didefinisikan sebagai kekuatan
dari ikatan yang menghubungkan brand dengan diri. Menurut teori attachment (Mikulincer and Shaver 2007), ikatan tersebut ditunjukkan
dengan jaringan memori yang kaya dan dapat diakses atau
merepresentasikan
mental
yang melibatkan
pikiran
dan perasaan tentang brand dan hubungan brand untuk diri.
Terdapat dua faktor penting yang merepresentasikan secara konseptual adalah brand-self connection,
dan brand prominence.
·
Brand-self connection.
Pertama, ide tentang attachment melibatkan ikatan dengan brand
yang merupakan bagian dari diri menyarankan bahwa aspek penting dari attachment adalah melibatkan cognitive dan emotional connection antara
brand dengan dirinya,
didefinisikan
disini dan
di
tempat lain sebagai brand-self connection
(Chaplin and
Roedder
John 2005; Escalas
and Bettman
2003;
Escalas
2004). Dengan
dikategorisasikan
bahwa
brand
adalah bagian dari diri, konsumen mengembangkan rasa dari
kesatuan mereka terhadap brand, membangun cognitive link yang menghubungkan
brand dengan diri mereka. Melalui
cognitive dalam hal ini, hubungan
brand dengan diri pada dasarnya adalah
hubungan secara emosional
(Mikulincer and Shaver 2007; Thomson
et al. 2005), melibatkan berbagai macam perasaan
secara kompleks terhadap suatu
brand, meli
kesedihan dan kecemasan dari brand-self separation; kebahagiaan,
kenyamanan dari brand-self proximity;
dan kebanggaan dari brand display. Konsumen dapat terhubung dengan brand karena hal
merepresentasikan seseorang secara individual (identity basis) atau ka hal
ini
merepresentasikan tujuan, perhatian secara personal,
atau project (instrumentality basis, Mittal 2006).
·
Brand
prominence.
Selain brand-self connection, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sejauh
mana perasaan positif dan
kenangan tentang object
attachment yang dianggap menjadi
top
of
mind
juga berfungsi sebagai
indikator
dari attachment. Menurut
Mikulincer (1998)
dan
Collins (1996)
kenangan
positif tentang object attachment (misalnya orang lain) lebih menonjol
bagi individu yang sangat terikat pada attachment object daripada individu
yang memiliki attachment yang lemah. Faktanya brand-self connection mengembangkan koneksi dari waktu ke waktu dan melalui pengalaman menunjukkan brand terkait dengan pikiran dan perasaan menjadi bagian dari memori seseorang
dan bervariasi dalam
persepsi
atau kemudahan
yang berada
dalam pikiran. Prominence menunjukkan salience (hal yang menonjol) dari ikatan cognitive dan affective yang berhubungan dengan brand terhadap diri. Salience melambangkan persepsi, kemudahan, dan frekuensi dengan pemikiran yang berkaitan dengan brand
dan perasaan
yang dibawa ke pikiran. Oleh sebab itu, attachment pada konsumen dalam
kaitannya dengan dua brand yang
tingkat brand self connection yang sama
terlihat lebih
tinggi
pada brand yang dianggap
lebih menonjol.
Kedua indikator tersebut merupakan hal yang
penting. Brand
self connection adalah komponen inti dari attachment karena koneksi ini lebih banyak mencerminkan definisi attachment sebagai ikatan yang
menghubungkan individu dengan brand. Penyertaan brand prominence menambah ketepatan dalam
mengukur kekuatan ikatan yang menghubungkan brand
dengan individu. Hal ini
dikarenakan dua
alasan :
·
Saat pikiran dan perasaan mengenai brand tersebut sangat mudah diakses prominence bisa
menimbulkan pengaruh kuat
yang tidak proporsional dalam mengambil keputusan (Alba dan Marmorstein 1987) dan sangat
mempengaruhi perilaku pembelian pada konsumen (Akçura, Gönül,dan
Petrova 2004). Secara khusus, konsumen yang menganggap brand self connection sangat penting dan yang mengasosiasikannya sebagai hal yang
juga
prominence kemungkinan besar lebih banyak terlibat dalam perilaku mempertahankan hubungan daripada konsumen dengan brand
self connection yang tinggi tapi tidak begitu menonjol. Hal ini benar adanya
karena
brand
prominence
membuat kegiatan untuk mempertahan
hubungan dengan brand juga menjadi menonjol.
Oleh sebab itu, seseorang
bisa mengamati komitmen yang lebih tinggi dalam bentuk kesetiaan pada brand dan perilaku
lain (misalnya omongan mulut ke mulut yang positif
dan
lebih banyak waktu, uang, dan energi yang dihabiskan
dalam perilaku untuk mempertahankan hubungan ini) jika brand self connection dan sifat menonjolnya tinggi. Logika ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya (Akçura, Gönül, dan Petrova 2004; Alba dan Chattopadhyay 1986; Albadan Marmorstein
1987), yang
menunjukkan bahwa keunggulan perasaan dan pikiran bisa
mempengaruhi perilaku dengan mengingat
kembali pikiran dan perasaan lainnya (Alba dan Chattopadhyay
1986). Seiring dengan semakin menonjolnya kegiatan untuk mempertahankan hubungan
ini, perilaku yang menghalangi hubungan juga bisa jadi terhambat.
· Konsumen
mampu
mengembangkan
brand
self connection
yang kuat
karena :
a)
Brand bersangkutan adalah bagian dari pemikiran diri seseorang dan/atau
b)
Koneksi
ini memiliki nilai
instrumental.
Alasan
pertama
menekankan brand-self connection dalam
hal siapa seseorang itu sebenarnya dan identitasnya. Seseorang mungkin bahwa jika brand
didasarkan pada identitas (yaitu iMac milik asing
seseorang
dilihat sebagai bagian dari siapa seseorang itu dan apa pendirian orang
tersebut) maka sifat menonjolnya umumnya lebih tinggi karena aktivasi diri dan aktivasi
brand
terjadi bersamaan.
Jika
demikian,
prominence
mungkin hanya menambah
sedikit peran dalam
penilaian tertentu keterikatan karena brand prominence dan brand self connection sama-
sama bervariasi.
Namun,
prominence bisa berfungsi sebagai indikator
penting mengenai keterikatan jika konsumen terhubung dengan sebagian brand karena nilai instrumentalnya (yaitu seperti iMac milik seseorang
yang penting dimiliki untuk memenuhi tujuan terkait dengan hiburan
pekerjaan). Jika suatu brand memiliki nilai instrumental,maka keterikatan akan lebih kuat jika ada lebih banyak pikiran dan perasaan terkait dengan brand tersebut dibandingkan dengan sebaliknya. Semakin
tinggi
prominence, pikiran dan perasaan terkait dengan brand
menjadi bagian dari kegiatan hidup
sehari-hari, dan ini membuat keterikatan pada brand
semakin kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar